Bukan Pencatat Presensinya


ANGGOTA Komisi I DPR Tjahjo Kumolo mendesak Sekjen DPR membatalkan rencana pembelian alat/ mesin pencatat presensi (kehadiran) senilai Rp 4 miliar karena tidak ada manfaatnya. Alasannya, anggota perlemen bukan pegawai negeri yang harus diabsen (SM, 28/11/11). Seandainya alasan penolakan itu karena harga alat pencatat kehadiran (model terkini dengan sistem sidik jari, sebagaimana yang rencananya dibeli sekretariat DPR) itu terbilang mahal, publik bisa memahami. Tapi kalau alasannya alat atau mesin tersebut tidak ada manfaatnya justru pengundang pertanyaan besar, apakah benar demikian?

Perilaku senang bolos di kalangan DPR sebenarnya telah lama menjadi soroton publik tapi hingga kini masih banyak legislator membolos. Sedikit contoh, rapat paripurna DPR 12 Juli 2010 pembukaan masa sidang IV hanya dihadiri 283 dari total 560 anggota, dan rapat paripurna 26 Juli 2010 hanya dihadiri 153 wakil rakyat, yang berarti ada 407 kursi kosong. (Kompas, 02/09/10).

Diakui atau tidak virus penyakit bolos itu menular ke provinsi dan kabupaten/ kota. Editorial harian ini edisi 30 April 2011 dengan judul ”Terus Melecehkan Diri Sendiri” menyorot kritis perilaku bolos wakil rakyat. Disebutkan, separo anggota DPRD Jateng membolos dalam rapat paripurna tanpa alasan jelas. Di tingkat kabupaten misalnya, 18 dari total 50 anggota DPRD Kendal, dari hampir seluruh fraksi, membolos pada sidang paripurna Jumat ,15 April 2011 (SM, 18 April 2011).

Presensi dengan cara menulis daftar hadir, gampang diatur, sulit dikontrol, apalagi ada rasa ewuh pekewuh dari pihak yang semestinya mengawasi. Berbeda dari mesin presensi bersistem sidik jari, telat datang atau pulang lebih cepat sedetik pun ketahuan.
Benar, posisi anggota DPR adalah jabatan politik, tidak sama dengan PNS, tapi jangan lupa mereka digaji dengan uang rakyat. Mereka juga menikmati fasilitas, yang notabene dari uang rakyat. Wajar bila rakyat menuntut mereka bekerja secara profesional.

Budaya kerja yang baik semestinya diupayakan sungguh-sungguh untuk meraih kembali kepercayaan rakyat. Selain pemakaian alat presensi sidik jari, semestinya hadirnya anggota DPR tak hanya diukur secara fisik tapi juga dari keaktifan dan kontribusinya menyalurkan aspirasi dan memperjuangkan kepentingan rakyat yang diwakilinya.

Perlakukan Sama

Kesan datang, duduk, diam, dapat duit (4D) perlu dihilangkan. Kasus memalukan yang ditangkap kamera wartawan, anggota DPR membuka file foto syur dari ponselnya tatkala mengikuti sidang, tidur, asyik ber-SMS, dan sebagainya. Kesan anggota DPR paling rajin kunjungan kerja ke daerah, apalagi keluar negeri, ketimbang sidang juga harus dihilangkan.

Terlebih banyak kunjungan kerja tidak efektif karena hanya menghabiskan anggaran agar tidak hangus. Kunker Komisi VIII DPR ke Australia misalnya, membuka borok itu karena dilakukan saat parlemen di Negara Kangguru lagi reses. Pemerintah federal pun tidak dihubungi, ditanya alamat website komisi, dijawab sekenanya dan salah.
Kepedulian rakyat mengawasi wakilnya di parlemen kini makin tinggi. Pemakaian alat presensi kehadiran bersistem sidik jari, sewajarnya diterima karena itu alternatif terbaik mengatasi masalah. Alat itu menghasilkan data akurat yang sulit diajak curang.

Ada perlakuan adil, anggota biasa atau pimpinan DPR mendapat ”perlakukan” sama dari mesin/ alat itu.
Angka kehadiran atau keaktifan mengikuti sidang perlu dikaitkan dengan tunjangan yang diterima. Selama ini, rajin atau malas, anggota DPR menerima hak dan fasilitas sama. Mestinya sekretariat DPR/ DPRD berani mengumumkan wakil rakyat yang sering membolos tanpa alasan jelas, dan memotong tunjangannya sepadan dengan ketidakhadirannya. Harapan masyarakat untuk peran maksimal wakil rakyat perlu direspons secara positif dengan langkah konkret. (10)

— Drs Satori Adib Sihwadi MM, anggota Persatuan Para Pensiunan Pegawai Pajak (P5), tinggal di Semarang

Sumber: Suara Merdeka (suaramerdeka.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s